Late Post,
Nggak tau kenapa setelah mudik dan si mbak belum dateng, rasanya sering banget marah-marah sama anak-anak. Mungkin karena kecapean juga mengerjakan sesuatu sendirian, jadilah emosi tidak terkendali, dan malangnya anak-anak yang jadi korban peluapan emosi. Kadang saking emosinya sampe tangan tak terkendali mukul si kakak. Kasian kamu nduk :(
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya masuk kantor dan kakak kembali ke sekolah. Tak kusangka, ada laporan dari bu guru kalau kakak ngusilin temennya, kata bu guru begitu udah kenal sama temennya (berhubung masuk sekolah baru mulai tanggal 1 Agustus dan laporan itu kuterima setelah kakak sekolah beberapa hari disana), kok kakak jadi agak kasar ya Mi. Deg, langsung aku speechless sama bu guru. Jangan-jangan karena akhir-akhir ini aku beberapa kali memukulnya kalo ngusilin dedek Aufa.
Nggak tau kenapa setelah mudik dan si mbak belum dateng, rasanya sering banget marah-marah sama anak-anak. Mungkin karena kecapean juga mengerjakan sesuatu sendirian, jadilah emosi tidak terkendali, dan malangnya anak-anak yang jadi korban peluapan emosi. Kadang saking emosinya sampe tangan tak terkendali mukul si kakak. Kasian kamu nduk :(
Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya masuk kantor dan kakak kembali ke sekolah. Tak kusangka, ada laporan dari bu guru kalau kakak ngusilin temennya, kata bu guru begitu udah kenal sama temennya (berhubung masuk sekolah baru mulai tanggal 1 Agustus dan laporan itu kuterima setelah kakak sekolah beberapa hari disana), kok kakak jadi agak kasar ya Mi. Deg, langsung aku speechless sama bu guru. Jangan-jangan karena akhir-akhir ini aku beberapa kali memukulnya kalo ngusilin dedek Aufa.
Karena merasa ada yang nggak beres dengan seringnya marah-marah ke anak-anak, aku berusaha introspeksi diri, berasa ada yang perlu dibenahi. Akhirnya aku minjem buku ke temenku seputar parenting, dan buku pertama itu adalah Amazing Parenting.
Judul Buku: Amazing Parenting
Penulis: Rani Razak Noe’man
Halaman: 164
Penerbit: Noura Books
Sekilas resensi dari buku ini:
Sekilas resensi dari buku ini:
Salah satu poin yang sangat penting dalam
berkomunikasi adalah bagaimana cara menyampaikannya. Misalnya, saat
kita mengatakan ‘Aku sayang kamu’ kepada seseorang, tanpa didukung
ekspresi dan bahasa tubuh yang benar, akan sia-sia. Bagaimana kau akan
merasakan perkataan sayang ketika disampaikan dengan ekspresi datar dan
mata menerawang? Ternyata masalah kesinkronan antara ucapan dan bahasa
tubuh seringkali menjadi masalah dalam hubungan, termasuk orangtua dan
anak.
Salah satu masalah komunikasi inilah yang
diangkat dalam buku Amazing Parenting. Semisal, saat anak pulang
terlambat dari sekolah, hingga membuat sang orangtua sangat khawatir,
begitu sampai di rumah, kebanyakan reaksi orangtua adalah mengungkapkan
rasa khawatir dengan amarah kepada anak. Amarah yang diluapkan orangtua
tadi, sebenarnya bermaksud untuk mewujudkan rasa sayang, tapi yang
tertangkap oleh anak adalah ‘orangtuaku marah’.
Ketidaksepahaman antara orangtua dan anak
yang kerap terjadi karena ketidaktepatan cara menyampaikan sesuatulah
yang kerap menjadikan pangkal ketidakcocokan di antara keduanya, yang
tak jarang merembet sampai anak beranjak remaja.
“Manakala berbicara dengan anak-anak, yang penting bukanlah apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita mengatakannya.” [Sebuah pengantar]
Kesabaran dan empati adalah salah dua
sikap yang ditekankan Bunda Rani dalam menghadapi anak-anak. Bagaimana
orangtua mengenali bahasa tubuh anak sebelum mengambil tindakan yang
tepat menjadi wujud dari empati yang akan meminimalisir kesalahan. Anak
rewel, malas belajar, tidak mau makan, adalah beberapa contoh kasus
yang membutuhkan kebijakan orangtua dalam mengambil tindakan, supaya
kondisi tersebut tidak menjadi berlarut-larut.
Saat membaca uraian dari Bunda Rani ini,
saya mendapatkan beberapa penguatan dan cara pandang baru, salah satunya
adalah pemisahan masalah, mana masalah yang anak, dan mana problem yang
perlu ditangani orangtua. Pemisahan masalah ini yang sepertinya kurang
mendapat perhatian dari banyak orangtua. Beberapa contoh kasus yang
diambil dari lingkungan sang penulis sendiri, dan selipan ilustrasi
tentang contoh komunikasi, sangat memudahkan pembaca menyerap materi
yang disampaikan Bunda Rani.
“Ayah dan Bunda, komunikasi bukanlah ‘apa yang kita sampaikan’, melainkan ‘apa yang ditangkap oleh orang yang kita ajak berkomunikasi’.” [h.56]
Buku ini highly recommended deh. Intinya menjadi ortu itu seharusnya
menyenangkan. Tapi, mengapa ibu-ibu banyak yang pusing bahkan stress
dalam mengurus anak? Melalui buku ini, kita bisa mempelajari, gimana
sih caranya supaya parenting (pengasuhan anak) menjadi sesuatu yang
amazing (menakjubkan)?Buku yang membahas tentang hal-hal yang “riil” terjadi dalam pengasuhan
anak. Berbagai kendala pengasuhan anak dibahas dalam buku ini seperti:
anak nggak mau makan, anak ngamuk di mall, dan lain-lain. Pentingnya komunikasi dalam pengasuhan anak,adalah hal yang dibahas secara mendalam dalam buku ini dengan bahasa yang sederhana,praktis dan runtut. Bunda Rani berhasil mengupas komunikasi menjadi sesuatu yang mudah
dimengerti dan dilakukan. Buku yang patut dibaca untuk semua orang tua
berapapun usia anak- anak mereka. Ternyata banyak hal yang belum pernah kupelajari, padahal sudah 3 tahun lebih menjadi ibu, kemana aja ya aku, hehe. Buku ini sangat bermanfaat untuk orang tua, banyak ilmu yang bisa diambil, jadi nyesel sering marah-marah ke anak-anak. Maafin ummi ya nduk :( Semangat untuk memperbanyak ilmu seputar parenting, aku pun meminjam buku-buku Perpustakaan tentang parenting yang akan diposting next time :)
Selamat membaca dan menikmati perjalanan menyenangkan “menjadi orang tua.” ^^
No comments:
Post a Comment