Wednesday, October 9, 2013

Semangat Baca

Late Post,

Nggak tau kenapa setelah mudik dan si mbak belum dateng, rasanya sering banget marah-marah sama anak-anak. Mungkin karena kecapean juga mengerjakan sesuatu sendirian, jadilah emosi tidak terkendali, dan malangnya anak-anak yang jadi korban peluapan emosi. Kadang saking emosinya sampe tangan tak terkendali mukul si kakak. Kasian kamu nduk :(

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya masuk kantor dan kakak kembali ke sekolah. Tak kusangka, ada laporan dari bu guru kalau kakak ngusilin temennya, kata bu guru begitu udah kenal sama temennya (berhubung masuk sekolah baru mulai tanggal 1 Agustus dan laporan itu kuterima setelah kakak sekolah beberapa hari disana), kok kakak jadi agak kasar ya Mi. Deg, langsung aku speechless sama bu guru. Jangan-jangan karena akhir-akhir ini aku beberapa kali memukulnya kalo ngusilin dedek Aufa. 

Karena merasa ada yang  nggak beres dengan seringnya marah-marah ke anak-anak, aku berusaha introspeksi diri, berasa ada yang perlu dibenahi. Akhirnya aku minjem buku ke temenku seputar parenting, dan buku pertama itu adalah Amazing Parenting. 

  

Judul Buku: Amazing Parenting
Penulis: Rani Razak Noe’man
Halaman: 164
Penerbit: Noura Books

Sekilas resensi dari buku ini:

Salah satu poin yang sangat penting dalam berkomunikasi adalah bagaimana cara menyampaikannya. Misalnya, saat kita mengatakan ‘Aku sayang kamu’ kepada seseorang, tanpa didukung ekspresi dan bahasa tubuh yang benar, akan sia-sia. Bagaimana kau akan merasakan perkataan sayang ketika disampaikan dengan ekspresi datar dan mata menerawang? Ternyata masalah kesinkronan antara ucapan dan bahasa tubuh seringkali menjadi masalah dalam hubungan, termasuk orangtua dan anak.
Salah satu masalah komunikasi inilah yang diangkat dalam buku Amazing Parenting. Semisal, saat anak pulang terlambat dari sekolah, hingga membuat sang orangtua sangat khawatir,  begitu sampai di rumah, kebanyakan reaksi orangtua adalah mengungkapkan rasa khawatir dengan amarah kepada anak. Amarah yang diluapkan orangtua tadi, sebenarnya bermaksud untuk mewujudkan rasa sayang, tapi yang tertangkap oleh anak adalah ‘orangtuaku marah’.
Ketidaksepahaman antara orangtua dan anak yang kerap terjadi karena ketidaktepatan cara menyampaikan sesuatulah yang kerap menjadikan pangkal ketidakcocokan di antara keduanya, yang tak jarang merembet sampai anak beranjak remaja.
“Manakala berbicara dengan anak-anak, yang penting bukanlah apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita mengatakannya.” [Sebuah pengantar]
Kesabaran dan empati adalah salah dua sikap yang ditekankan Bunda Rani dalam menghadapi anak-anak. Bagaimana orangtua mengenali bahasa tubuh anak sebelum mengambil tindakan yang tepat menjadi wujud dari empati yang akan meminimalisir kesalahan. Anak rewel, malas belajar, tidak mau makan, adalah beberapa contoh kasus yang  membutuhkan kebijakan orangtua dalam mengambil tindakan, supaya kondisi tersebut tidak menjadi berlarut-larut.
Saat membaca uraian dari Bunda Rani ini, saya mendapatkan beberapa penguatan dan cara pandang baru, salah satunya adalah pemisahan masalah, mana masalah yang anak, dan mana problem yang perlu ditangani orangtua. Pemisahan masalah ini yang sepertinya kurang mendapat perhatian dari banyak orangtua. Beberapa contoh kasus yang diambil dari lingkungan sang penulis sendiri, dan selipan ilustrasi tentang contoh komunikasi, sangat memudahkan pembaca menyerap materi yang disampaikan Bunda Rani.
“Ayah dan Bunda, komunikasi bukanlah ‘apa yang kita sampaikan’, melainkan ‘apa yang ditangkap oleh orang yang kita ajak berkomunikasi’.” [h.56]
Buku ini highly recommended deh. Intinya menjadi ortu itu seharusnya menyenangkan. Tapi, mengapa ibu-ibu banyak yang pusing bahkan stress dalam mengurus anak? Melalui buku ini, kita bisa mempelajari, gimana sih caranya supaya parenting (pengasuhan anak) menjadi sesuatu yang amazing (menakjubkan)?Buku yang membahas tentang hal-hal yang “riil” terjadi dalam pengasuhan anak. Berbagai kendala pengasuhan anak dibahas dalam buku ini seperti: anak nggak mau makan, anak ngamuk di mall, dan lain-lain. Pentingnya komunikasi dalam pengasuhan anak,adalah hal yang dibahas secara mendalam dalam buku ini dengan bahasa yang sederhana,praktis dan runtut. Bunda Rani berhasil mengupas komunikasi menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan dilakukan. Buku yang patut dibaca untuk semua orang tua berapapun usia anak- anak mereka. Ternyata banyak hal yang belum pernah kupelajari, padahal sudah 3 tahun lebih menjadi ibu, kemana aja ya aku, hehe. Buku ini sangat bermanfaat untuk orang tua, banyak ilmu yang bisa diambil, jadi nyesel sering marah-marah ke anak-anak. Maafin ummi ya nduk :( Semangat untuk memperbanyak ilmu seputar parenting, aku pun meminjam buku-buku Perpustakaan tentang parenting yang akan diposting next time :)
Selamat membaca dan menikmati perjalanan menyenangkan “menjadi orang tua.” ^^

No comments:

Post a Comment