Tuesday, April 23, 2013

QS Nuh Ayat 9 s.d. 12

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Alhamdulillah pagi ini bisa kembali mengikuti kajian di gedung Sutikno Slamet. Langsung saja, berikut rangkuman pribadiku dari kajian pagi ini.

"Kemudian sesungguhnya, aku (menyeru) mereka (lagi), dengan terang-terangan dan dengan diam-diam," – (QS.71:9)

Berhubung datengnya agak telat, jadi untuk ayat ini cuma sempet dapet, bahwa dalam berdakwah hendaknya mengedepankan kebaikan-kebaikan, kabar gembira serta motivasi (at-targhib), kemudian baru kita tunjukkan ancaman (at-tarhib), sebagaimana Alloh menciptakan surga dulu, baru neraka.

"maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun'." – (QS.71:10)

Lantas dari ayat ini timbul pertanyaan, bagaimana dengan firman Alloh dalam QS An Nisa: 48

"Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain daripada (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." – (QS.4:48)

Maksud dari QS AnNisa: 48 di atas adalah ayat tersebut diturunkan untuk ahli syirik, artinya orang-orang yang menyekutukan Alloh, dan sampai mereka meninggal tidak bertaubat, maka dosa mereka tidak diampuni oleh Alloh. Adapun ahli syirik yang telah bertaubat nasuha, mereka akan mendapatkan ampunan dari Alloh.

Abu Ubaidah dari ayahnya Abdullah r.a., Rosululloh SAW bersabda:
Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa baginya. (HR. Ibnu Majah, Hasan)

Subhanalloh, begitu Maha Pengampunnya Alloh SWT, dalam hadis lain,
 
Abu Dar r.a., Rosululloh SAW bersabda: 
Alloh berfirman, "Wahai manusia, seandainya kamu melakukan sepenuh bumi perbuatan salah dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, aku jadikan untukmu sepenuh bumi ampunan." (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita menyebut-nyebut seseorang dengan mantan pemabuk, mantan penjudi, dsb jika orang tersebut telah bertaubat, kecuali dengan tujuan agar orang itu lebih bersyukur kepada Alloh atas hidayah dan taufik yang diberikan. 

Lanjut ayat 11
"niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat," – (QS.71:11)

Ibnu Katsir dan sebagian besar ulama sepakat, dianjurkan membaca surat ini ketika kita mendirikan sholat Istisqo' (sholat meminta hujan). Saat meminta hujan, Umar Bin Khottob banyak membaca istighfar dan membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan istighfar.

"dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." – (QS.71:12)

Nah, di antara fungsi istighfar antara lain sebagaimana tersebut di atas:
  • Penghindar musibah, sebagaimana firman Alloh dalam QS. Al Anfal: 33."Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar)." Rosululloh senantiasa beristighfar, tidak kurang dari 70 kali, oleh karena itu Alloh tidak pernah menimpakan azab kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana umat-umat terdahulu.
  • Mendatangkan kekuatan. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam QS. Hud: 52 yang berbunyi "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan, kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling, dengan berbuat dosa'." Jadi ketika kita lemah dalam semangat hidup maupun lemah dalam beribadah, segeralah perbanyak istighfar agar Alloh memberikan kekuatan kepada kita untuk segera kembali menjadi pribadi yang kuat.
  • Mendatangkan keturunan. Seseorang datang kepada Hasan bin Ali bin Abi Tholib dan berkata, "Sungguh aku memiliki harta yang banyak, maka ajarkanlah kepadaku sesuatu amalan yang dengan amalan itu semoga Alloh SWT memberikan anak. " Maka beliau berkata, "Hendaklah kamu banyak beristighfar." Lalu orang itu banyak beristighfar hingga satu harinya dapat mencapai tujuh ratus kali, maka Alloh memberikan anak laki-laki kepadanya sebanyak sepuluh anak. Subhanalloh... 
  • Pembuka jalan kesulitan. 
  • Pembuka rizki.
Penutup dari kajian pagi ini:

Agama Islam ini tidak datang membawa belenggu yang diletakkan pada leher para pengikutnya, tapi dia datang dengan membawa kemudahan dan tidak memberikan beban yang mereka tidak mampu membawanya, Islam membawa syariat baik perintah/larangan yang mengandung kemudahan. Alloh berfirman: Dan sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. 

Rosululloh ketika mengutus Muadz dan Abu Musa Al As'ari r.a.: 
"Berikan kemudahan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan ditakut-takuti, bekerja sama dan jangan berbeda-beda."

Sekian, smoga bermanfaat ^^
 

No comments:

Post a Comment